SELAMAT DATANG DI BLOG KPI KLASIS GKI MIMIKA

Rabu, 02 Juni 2010

INJIL DAN KEBUDAYAAN

KEBUDAYAAN SEBAGAI LANDASAN HIDUP
TEMPAT PESEMAIAN BENIH INJIL
Oleh : Pdt. Hiskia Rollo, STh.

Kebudayaan adalah segala nilai, kekayaan dan kebiasaan dasar yang dipelihara sebuah masyarakat. Nilai itu selanjutnya diturun-alihkan dari generasi ke generasi, agar setiap generasi memiliki kerangka acuan dalam menghadapi tantangan hidupnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan itu pada hakekatnya adalah:”suatu upaya yang tanpa henti dari satu masyakat untuk menjawab tantangan-tantangan yang sewaktu-waktu dihadapinya.
Manusia mewarisi kebudayaan dengan mempelajari berbagai hal dari orang tua dan juga darimasyarakat. Ada berbagai bentuk pendidikan masyarakat adat yang dipakai untuk mendidik generasi muda, seperti pada rumah-rumah adat (Karawari). Di tempat-tempat seperti inilah, seluruh sistim kehidupan masyarakat adat (budaya) itu diajarkan. Generasi muda dididik dengan penuh perhatian, karena di kelak kemudian hari anak-anak inilah yang akan berperan terus untuk menjaga seluruh tatanan nilai adat itu.
Hubungan triadis (Guru, murid dan bahan pelajaran) yang kita lihat dalam sebuah sistim pendidikan modern sangat nampak juga dalam sistim pendidikan tradisional di dalam rumah adat (Karawari) ini. Ada guru yang memainkan peran untuk bidang-bidang khusus yang dikuasainya, misalnya: bidang ketrampilan perang, berburu, bercocok tanam, bidang etika adat, batas-batas tanah, penyembahan (religi), dukun, dsbnya.
Sistim pendidikan Karawari ini dan berbagai bentuk kebudayaan masyarakat adat mulai terdegradasi ketika Berita Injil mulai masuk melalui para missionaris. Para missionaris yang bekerja dengan semboyan “extra ecclesia nulla salus” yang artinya: di luar gereja tidak ada keselamatan. Semboyan ini menjadi dorongan utama para missionaris Australia, Eropa, Amerika berlomba-lomba dengan susah payah membuka daerah-daerah missi di dunia ketiga untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang pribumi di seluruh dunia.
Di kawasan Melanesia, para missionaris ini berusaha keras dengan segala resiko untuk mencapai suku-suku pribumi dan berusaha mengkristenkan mereka, agar mereka (orang kafir) memperoleh keselamatan melalui Injil dan Gereja yang para missionaris ini bawakan. Dan pada saat PI mula-mula itu, ukuran untuk menjadi Kristen dan ukuran Keselamatan orang pribumi hanya sebatas pada aspek pengetahuan iman (pengetahuan tentang Alkitab, doktrin iman, dan pengajaran kristen lainnya. Sejauh orang pribumi dapat menghafal hal-hal tersebut, maka mereka segera dibaptis sebagai tanda keselamatan.
Para petugas lokal atau pribumi sebagai katekis, gembala, ketua kring, dewan paroki, majelis, di didik dan dilatih menurut pola atau paham missionaris tersebut, dan disebarkan ke daerah-daerah missi untuk melaksanakan tugasnya. Inilah salah satu pola yang sangat dominan dari para missionaris untuk mengkristenkan orang pribumi. Dan pola ini, masih tetap relevan sampai dengan saat ini.
Pada era para missionaris ini sebenarnya terjadi proses penafsiran yang lain, yakni proses penafsiran nilai-nilai baru (kekristenan) ke dalam kerangka kebudayaan orang pribumi. Proses ini terjadi diluar lembaga gereja dengan segala perangkat formalnya. Proses ini terjadi di tengah-tengah masyarakat secara otomatis tanpa suatu perencanaan formal (bnd pengalaman sida-sida Etiopia-“Tahu kah tuan apa yang tuan baca”). Sehingga tiap orang pribumi yang menerima nilai baru itu (Injil) mencoba membanding- bandingkan dengan nilai-nilai di dalam budayanya, lalu dibongkar-pasang antara nilai lama (budaya) dan nilai baru (Injil) dan akhirnya menghasilkan nilai-nilai baru yang di bangun dalam rangka kebudayaan mereka.
Hasil nilai baru itu diungkapkan dalam masyarakat pribumi tersebut, sebagai sebuah kebenaran mereka, yang mereka tunjukan dalam berbagai macam bentuk, misalnya: mitos yang lebih benar, gerakan keselamatan, kargoisme, dan sebagainya. Para missionaris, seringkali tidak memperhatikan proses inkarnasi dua nilai yang wajar, tetapi selalu memberi cap/label bahwa:”gerakan-gerakan keselamatan masyarakat itu dilihat sebagai nilai-nilai atau gerakan-gerakan yang kafir dan setani, dan itulah sinkritisme.

Tulisan ini merupakan bahan ceramah pada Lokakarya Pekabaran Injil di PUSPENKA Hawai Sentani Akhir 2008.

0 komentar:

Posting Komentar

My Blog List